hidup adalah warna-warna yang terlakar pada kanvas. walaupun tidak cantik, ia punya sejuta erti.
berus itu berada di antara ibu jari dan telunjuk. botol-botol warna-warna disusun kemas di atas meja kopi di sebelah kanan.
sekarang, aku berdiri dan merenung dalam ke kanvas itu. warna apa yang ingin aku palitkan dulu?
merah keputih-putihan?
aahhh.. itu tanda romantika.
lari jauh nanti kejantanan aku.
hijau gadung?
boleh juga.
cepat, aku corengkan kanvas putih mati itu.
sudah.
warna apa lagi?
nilakandi?
ya.
inilah dia warna yang bakal menghubung emosi dan logik.
inilah dia warna yang bakal menyembuh tiap garis yang dilakar bilah silet.
inilah dia warna yang bakal memeluk, menghulur bahu,
dan berkata; "segalanya akan baik-baik saja."
setakat ini, itu saja warna-warna yang ingin aku potretkan ke kanvas putih mati itu.
kanvas putih mati itu.
kanvas putih mati kepunyaan aku.
apa?
tidak cantik?
tidak komersil?
menyakitkan mata?
aku senyum kecil.
berus tadi aku letakkan.
mata menentang lampu kalimantang yang menjalar menyala penuh gagah.
kebahagiaan itu tidak didatangkan hanya dalam pakej wajah comel tersenyum,
manusia-manusia tertawa terbahak-bahak atas kelancaran dan kenikmatan hidup,
anak-anak pulang dengan keputusan SPM yang berderetan A1,
dan remaja-remaja menari menghempas kepala, merelakan musik-musik disko dan techno meresap kencang ke urat-urat dan saluran darah,
bersilaju menuju arteri dan medulla oblongata,
dan keesokannya, matahari pagi disambut dengan pening kepala yang sangat mengganggu.
kebahagiaan itu bisa juga dibungkuskan bersama air mata, kerja keras,
perpisahan, kehilangan, keterlewatan, keterlanjuran,
dendam, darah yang tumpah, kekalahan,
penolakkan, kemurungan, kedinginan,
pengasingan, panas kontang,
kebuluran, penyakit berjangkit,
korupsi, hipokrasi, diskriminasi, polusi, erosi, emergensi,
dan paling penting,
komposisi utama,
ketidaksempurnaan dan keterbukaan untuk mensyukurinya.
No comments:
Post a Comment